Ilustrasi. (Layouter/Reza)

Oleh : Triesnha Ameilya

Feminisme merupakan suatu istilah yang memiliki banyak arti. Contohnya, ada yang menggunakan istilah feminisme untuk menggambarkan suatu gerakan yang menyuarakan kesetaraan gender, kemudian ada yang mengartikan feminisme sebagai suatu tameng atas ketidakadilan yang menyerang kaum wanita, bahkan ada pula yang mendefinisikan feminisme sebagai suatu gerakan tak terlihat yang dapat memperjuangkan hak-hak wanita.

Terlepas dari arti yang beragam, kita semua tentu setuju bahwa feminisme pada dasarnya diartikan sebagai suatu gerakan yang terbentuk untuk melawan patriarki. Feminisme bukanlah suatu gerakan yang baru terbentuk di era modern. Jauh sebelum Women’s March, #metoo, dan #timesup,  Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan salah satu kampanye terbaik dalam menyuarakan feminisme pada masanya. Jauh sebelum Emma Watson menjadi trending topic karena berpidato mengenai gender equality, R.A Kartini sudah lebih dahulu viral karena keberaniannya melawan patriarki. R.A Kartini merupakan pembuka gerbang feminisme pertama di Indonesia. Tanpa melabeli dirinya seorang feminis, ia tetap berjuang menyuarakan hak-hak perempuan yang ditindas pada masa itu.

Berbeda dengan Kartini yang berjuang mengutarakan ketidakadilan terhadap perempuan selama puluhan tahun, kini banyak dari kita yang ketika menulis satu cuitan mengenai feminisme saja sudah melabeli diri sebagai feminis. Hal ini tidaklah salah, karena memang tidak ada indikator yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan predikat feminis. Setiap orang tentunya memiliki caranya masing-masing dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan melawan patriarki.

Namun sayangnya, saat ini banyak di antara kita yang salah persepsi dan menjadikan feminisme sebagai justifikasi terhadap pelanggaran nilai dan norma yang mengatasnamakan hak perempuan. Seperti contohnya, ada beberapa perempuan yang mabuk dan pulang larut, menjustifikasi perilakunya sebagai bentuk dari feminisme. Kemudian, ada juga perempuan yang mempunyai lebih dari satu partner seks atau orientasi seksual yang tidak straight, atas nama feminisme mereka berasumsi bahwa tidak ada yang salah akan hal itu, sebab mereka mempunyai hak penuh atas tubuhnya. Padahal, tak ada satupun dari perilaku tersebut yang layak mendapatkan justifikasi baik itu oleh laki-laki maupun perempuan.

Banyak dari kita yang menyalahartikan feminisme dan patriarki. Perilaku menyimpang yang biasanya dilakukan oleh laki-laki bukanlah patriarki, sehingga kaum perempuan tak perlu melakukan hal serupa dengan dalil “untuk mengimbangi”. Banyak hal yang perlu disoroti dari patriarki, namun seringkali tak kita sadari, seperti ungkapan-ungkapan berikut ini.

Perempuan harus cantik, tangannya harus lembut masa kasar kayak tangan laki-laki. Kulitnya harus putih, masa kusam kayak laki-laki. Perempuan harus bisa masak, nanti kalau sudah menikah, masa suaminya dikasih mie tiap hari. Perempuan harus terbiasa bangun pagi, supaya nanti tidak telat buatkan kopi. Sudahlah, sekolahnya tak usah tinggi-tinggi toh nanti kalau sudah jadi seorang istri, karir tak lagi penting. Si A tak apa belum menikah di usia 35, toh dia laki-laki selama mapan dan punya karir, perihal calon istri tinggal memilih. Aduh, usia 25 masih fokus studi? Mau nikah usia berapa? Perempuan kalau mendekati usia 30 sudah tak muda lagi, tak boleh pilih-pilih.”

Ungkapan-ungkapan di atas hanyalah sebagian kecil ekspresi yang terbiasa kita dengar sehari-hari. Manifestasi dari patriarki yang hanya dapat diamati pun masih jauh lebih banyak lagi. Menjadi salah satu bukti bahwa hingga saat ini, mimpi Kartini belum sepenuhnya terealisasi. Sungguh ironi, setiap hari berdiskusi mengenai gender equality, namun feminisme malah dijadikan sebagai kedok dan justifikasi atas tindakan negatif. Sejak awal kita sepakat, bahwa feminisme pada dasarnya adalah suatu gerakan yang terbentuk untuk melawan patriarki. Lalu, mengapa kita khianati? Mengapa feminisme menjadi kehilangan arti?

 

Editor: Destalia