Ilustrasi. (Layouter/Reza)

Oleh: Rian Hamdani

Ada yang menarik setiap bertemu tanggal 21 April. Banyak orang tahu, bahkan di sekolah dasar pun diajarkan bahwa setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Semua orang menggelar Hari Kartini dengan beberapa tradisi yang masih terawat hingga kini. Mulai dari perayaan kontes baju adat, lomba memasak, lomba rias, dan lomba-lomba lainnya yang berhubungan dengan dunia perempuan. Perayaan ini tidak hanya dirayakan di sekolah, perusahaan, bahkan lingkungan rumah pun giat melaksanakannya.

Sedari dini perempuan-perempuan Indonesia sudah didikte patriarki. Sepertinya tanggal 21 April adalah momentum perayaan kaum perempuan. Bagaimana tidak, salah satu tokoh perempuan pahlawan nasional yang cukup populer sampai sekarang adalah Raden Ajeng Kartini. Perempuan asal Rembang ini menjadi sosok idola kaum perempuan. Lewat surat-suratnya yang selalu diajarkan di tiap kurikulum sekolah dasar menjadi ingatan tersendiri di setiap benak rakyat Indonesia. Salah satu karyanya yang bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang ini menjadikan power untuk perempuan-perempuan pada zamannya hingga sekarang. Disinilah emansipasi terlahir dari buah tangan Kartini.

Emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini saat ini kita familiar dengan paham yang disebut feminisme. Perjuangan Kartini pada masa itu tidak bisa dibilang isapan jempol semata. Kesewenang-wenangan kolonialisme membuat ini jadi perhitungan untuk berjuang. Apalagi perempuan pada saat itu kurang mendapatkan keadilan yang setara.

Ini adalah tujuan awal perjuangan emansipasi yang diusung Kartini. Namun sejauh ini justru mengisolasi perempuan dan merampas air mancur kebahagiaan yang sangat penting baginya. Hanya emansipasi artifisial yang membuat perempuan modern tampak seperti makhluk buatan yang mengingatkan kita pada salah satu produk arborikultur Prancis—pohon arabes semak, piramida, roda, dan karangan bunganya—segalanya kecuali bentuk-bentuk yang dapat dicapai melalui ekspresi kualitas dirinya sendiri. Tanaman artifisial yang tumbuh dari jenis kelamin perempuan seperti itu dapat ditemukan dengan jumlah besar, terutama dalam apa yang kita sebut sebagai lingkungan intelektual di kehidupan kita.

Kebebasan dan kesetaraan perempuan, harapan, dan aspirasi macam apa yang dibangkitkan dari kata-kata yang pertama kali diucapkan Kartini. Matahari yang bersinar sempurna dan kemuliaan akan segera menyambut dunia baru; dalam dunia ini perempuan bebas menentukan takdirnya sendiri. Sebuah cita-cita yang tentunya membutuhkan keteguhan, keberanian, ketekunan, dan usaha tiada henti dari seorang Kartini.

Kartini dikenal sebagai tokoh revolusi pada masa itu. Dia mendobrak feodalisme yang menjadi tradisi Jawa pada zamannya. Wanita yang sarat akan tatanan patriarki menjadi langkah awal terbentuknya perjuangan Kartini. Perempuan digambarkan tunduk akan keputusan, membuat Kartini jengah akan hal ini. Dia menyadari ketika masa depan perempuan harus memiliki hak yang sama sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang harus dibedakan. Prinsip inilah yang menjadi Kartini sosok yang dicap sebagai perempuan radikal pada tatanan feodal masa lalu.

Warisan Kartini

Berbicara jauh tentang Kartini, kita tidak bisa mengklaim hanya dari satu sumber. Banyak perdebatan panjang tentang kartini. Sedikit meninggalkan tentang apa yang Kartini perjuangkan, kita bisa mengambil beberapa warisan yang sampai saat ini jadi semangat kaum perempuan tanah air. Peninggalan berupa surat-surat yang dibukukan oleh Abendanon, menyulut api perlawanan tentang kesetaraan perempuan. Namanya kian meledak di kalangan Eropa. Revolusi perempuan tanah air lahir dari goresan tangannya.

Keinginan Kartini untuk mencerdaskan kaum perempuan terlahir dari sekolah yang dia dirikan. Tergambar jelas bahwa patriarki adalah musuh yang harus dilawan. Perempuan memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki. Masa depan pun tidak melulu harus tunduk pada tradisi. Ajaran-ajaran lokal yang mengharuskan perempuan dengan istilah ‘dapur-sumur-kasur’ jadi paradigma yang terus bergulir hingga sekarang. Perempuan berhak atas hidup dan masa depannya. Perempuan bukan semata-mata hanya menjadi objek yang harus dilanggengkan.

Kita tahu sulitnya mendobrak patriarki yang terus terpelihara hingga kini. Ajaran agama, tradisi, dan moral menjadikan tameng bertahannya patriarki hingga sekarang. Lantas apa yang Kartini perjuangkan untuk kaum perempuan tidak bisa lepas dan selesai sampai di sini. Ada hal yang lebih penting daripada hanya membahas sekadar fungsi stafsus milenial.

‘ada hal yang lebih tidak berguna dari sekadar fungsi stafsus milenial’. (RH)*

Editor: Destalia