Ilustrasi. (Layouter/Reza)

Oleh: Rian Hamdani

Samar-samar mungkin sering terdengar sayup irama dengan sahutan ‘bella ciao bella ciao bella ciao ciao ciao ciao’. Beberapa orang mungkin asing dengan lagu tersebut. Mereka mengganggap ini hanya sebuah lagu asing berbahasa Latin layaknya ‘Esmeralda – Ay Amor’ atau ‘¡Amigos x Esiempre!’ di beberapa film ala telenovela pada dekade 90-an. Tapi bagi kalangan muda masa kini sebagian pasti sangat mengenal lagu dengan nada Bella Ciao. Lirik yang mudah diingat dan irama sederhana mengingatkan pada sebuah film seri rilisan Netflix. Serial drama streaming ini mendapatkan respon dari penonton yang cukup responsif.

Kesuksesan serial drama Lacasa de Papel Money Heist membawa lagu Bella Ciao menuju kepopuleran. Orang yang agak asing dengan lagu ini, jadi terbuai semenjak menonton seri drama tersebut. Film dengan alur cerita bak roller coaster membawa penonton terbuai didalamnya. Plot cerita yang mengisahkan perampokan ini ternyata menawarkan sudut pandang lain. Drama seri ini menjelaskan perspektif protagonis dari sudut perampok. Ya, kita tahu, stigma perampok yang kita amini sampai sekarang adalah pekerjaan penjahat. Namun drama seri ini membawa esensi penjahat dari sisi lain.

Tentu saja kita sedikit luput mengenai makna penjahat itu sendiri. Sedari kecil kita didikte untuk berbuat baik dengan tradisi fundamentalisme. Ternyata ada yang lebih jahat dari seorang perampok. Mengambil yang memang bukan haknya dengan teknis yang lain. Kita sebut saja ‘pemerintah’. Mereka memiliki rahasia yang mirip dengan perampok namun dengan cara yang berbeda. Entah itu dengan pencucian uang, korupsi, dinasti politik, sampai perampasan hak hidup.

Kita tidak akan membahas lebih jauh mengenai drama seri ini. Tapi lagu yang ada di dalam drama seri ini yang akan kita bahas lebih lanjut. Kita mengakui bahwa relevansi antara alur cerita dan musik film harus cocok. Makna dari lagu Bella Ciao sangat mewakilkan pesan yang disampaikan oleh drama seri besutan Álex Pina ini.

Sejarah dan Makna Bella Ciao

Desir lirik yang menyayat hari pertama menggema pada saat perang saudara di Italia. Lagu ini dipercaya membawa semangat perjuangan para partisan yang melawan fasisme pada saat itu. Sepanjang era 1922 – 1945 perang saudara terjadi di daratan tanah negara yang identik dengan sepak bola ini. Rakyat yang gagah berani melawan otoritas NAZI dan Mussolini membawa nyawa baru pada lagu Bella Ciao. Partigiano atau partigiani (sebutan bagi partisan di Italia) bahu-membahu melawan dengan cita-cita merobek derasnya fasisme.

Tanpa kita sadari, lagu yang menggema dekade abad ke-19 itu masih terpelihara sampai sekarang. Tidak hanya di daratan negeri pizza, semangatnya mengudara sampai ke Amerika bahkan Asia. Lagu yang berkisahkan tentang partisan yang akan turun ke medan peperangan mengucapkan selamat tinggal pada kekasihnya. Yap, tidak bisa dipungkiri, lagi-lagi cinta mengantarkan kita pada romantisme perjuangan. Bahkan harus meregang nyawa sekalipun. Kita bisa melihat betapa laranya sang partisan menyampaikan pesan pada kekasihnya yang berbunyi:

“Dan jika aku mati sebagai partisan, kau harus menguburku di gunung. Di bawah bayangan bunga-bunga yang cantik.”

Kita bisa menilai bagaimana cinta bisa meluluhkan keinginan untuk menghapuskan penindasan didunia ini. Masa lalu menggambarkan bagaimana fasisme jadi senjata paling mengerikan sepanjang sejarah. Pembantaian dan genosida jadi penyulut api perjuangan yang mendambakan kemerdekaan. Lagu ini pun diidentikan dengan kaum-kaum kiri sosialis sampai hari ini. Dentuman keras semangat yang tersirat dalam lagu ini membawa kita pada nuansa panasnya perang era abad ke-19.

Warisan yang Terjaga Sampai Saat Ini

Mari sedikit melaju ke masa kini. Kita tinggalkan drama pertumpahan darah era lampau. Sedikit beranjak ke daerah Livorno, Italia, lagu ini masih jadi simponi perjuangan yang terawat. Di dalam gemuruh tribun stadion sepak bola, kita bisa mendengar sayatan lirihnya Bella Ciao. Tidak luntur esensi, lagu Bella Ciao masih pada akar dan tujuannya yaitu alat perlawanan terhadap kaum fasis. Kita ingat pada saat Livorno menjamu Lazio 27 April 2014 di stadion Armando Picchi. Mayoritas pendukung Lazio terkenal dengan faham fasisme nya yang masih dielu-elukan sampai saat ini. Klub pinggiran ibukota itu masih bercinta dengan buaian warisan Mussolini. Paham fasis yang terpelihara menjadi titik balik perlawanan ultras (sebutan pendukung sepak bola di Italia) Livorno. Lagu yang dikumandangkan bersamaan dengan dentuman senjata api, kini beralih nuansa menjadi sayatan lingkungan sepak bola.

Bukan rahasia umum, sepak bola menjadi alat yang bisa merepresentasikan politik masa kini. Berbicara tentang sepak bola, Livorno adalah satu-satunya klub yang masih berpegang teguh pada idealisme. A.S. Livorno selalu membuka peluit kick off dengan lagu Bella Ciao, bahkan lagu ini sampai dijadikan lagu resmi klub. Sama halnya ketika kita melihat juventus dengan Storia Di Un Grande Amore, Liverpool dengan You’ll Never Walk Alone, atau kerasnya Hells Bells yang nyaring saat klub Jerman St. Pauli bertanding. Bagi masyarakat Livorno, lagu Bella Ciao selalu digambarkan dengan sarat akan perlawanan terhadap kapitalisme, fasisme, borjuisasi, dan paham otoritarianisme lainnya. Seperti kutukan, Bella Ciao masih terpelihara hingga kini. Perjuangan dan perlawanan masih terpatri ketika lagu ini dikumandangkan. Berbagai unsur pun ikut memoles lagu ini agar terdengar lebih estetik. Banyak negara ikut memelihara lagu ini untuk agenda perlawanan kaum kiri. Bagaimana di Indonesia? Apakah kita harus menunggu di-cover oleh Via Vallen versi koplo hingga hilang esensinya?

Editor: Destalia