Ilustrasi. (Journal367/Reza)

Halo, aku Salsa, mahasiswi yang menjalani simulasi pengangguran selama masa physical distancing. Aku pikir selama menjalani masa physical distancing di rumah akan membosankan, ternyata tidak juga. Ada banyak hal yang terjadi di rumah, dari konflik keluarga berkepanjangan hingga hal-hal yang berbau mistis. Aku akan menceritakan hal-hal yang berbau mistis saja.

Aku percaya pada hal-hal berbau mistis, meski tak bisa melihatnya secara langsung. Namun, adanya keberadaan mereka cukup membuatku kesal sekaligus ketakutan. Pasalnya, mereka sering menggangguku.

Kebiasaanku selama tiga bulan terakhir ini adalah menonton seri drama, film, atau anime di larut malam. Saat aku fokus menonton di adegan paling seru dimana pihak protagonis berhadapan dengan pihak antagonis (boss battle scene), suara derap langkah yang menghentak kemudian ketukan pintu membuatku menjeda anime yang sedang kutonton.

Kenapa Ibu mengetuk pintu kamarku malam-malam begini? Kenapa tidak langsung membukanya saja seperti yang biasa dilakukan?

Sambil menahan napas, aku menutup notebook langsung dan bergelung ke dalam selimut tebal. Kamuflase.

Selang beberapa detik tak ada jawaban, aku kembali melanjutkan tontonanku sampai matahari terbit.

Selama aku menonton larut malam, aku sering mendapatkan ‘gangguan’ tadi. Aku sering terkecoh dengan ‘jebakan’ derap langkah dan ketukan pintu. Mungkin, mereka menyuruhku untuk tidur lebih awal. Tapi kalau memang menyuruhku untuk tidur, kenapa mereka juga menggangguku saat aku tidak menonton?

Kamarku dan kamar adikku berada di lantai atas yang merangkap sebagai gudang. Terkesan creepy, namun tidak ada kejadian mistis di malam hari. Malam-malam yang damai sampai pada akhirnya orang tuaku memutuskan untuk merombak gudang loteng mengerikan menjadi kamar tidur dan kamar mandi. Sejak dirombak, mereka lebih sering mengganggu dan intens menampakkan diri. Syukur tidak bisa melihat mereka, namun adikku menjadi korbannya. Ia sering merinding ketakutan jika mereka menampakkan diri.

Pada malam yang selanjutnya, aku dan adikku, Fumi, memutuskan untuk menonton film bersama. Fumi bertugas mengambil snack di kulkas. Itu misi yang sulit, selain karena peraturan di rumah sangat ketat ia juga harus berusaha agar tidak membangunkan Ayah yang tidur di kamar bawah.

“Gimana?” tanyaku. “Ayah bangun?”

Di kegelapan, Fumi mengangguk sambil mengunyah es batu. “Mission accomplished! Ayah masih ngorok,”

“Oke, saatnya menonton!”

Kami menonton film hingga pada satu waktu, hentakan kaki terdengar dari arah tangga dan dari arah kamar tidur yang dulunya bekas loteng terdengar suara sandal Ibu. Refleks, Fumi menjeda film dan menutup notebook. Sedangkan aku menahan napas kemudian mendekat ke arah pintu kamar.

Dari balik gorden jendela, aku tak melihat siapapun. Fumi yang juga diam-diam melihat situasi luar kamar dalam diam memastikan keadaan, lalu menyibakkan gorden kamar keras-keras.

“Nggak ada siapa-siapa,” Fumi memastikan bahwa keadaan aman. Untuk membuktikannya padaku, ia membuka pintu lebar-lebar. Dinginnya malam menusuk kulitku.

Aku menghela napas lega, “Oh syukurlah. Kuy lanjutin,”

“Nanti mah kalau ada suara dag-dug-dag-dug atau suara sandal diemin aja. Cek aja tapi nggak usah rusuh kek tadi,” ujar Fumi sambil memasang kembali earphone.

Mengambil keripik pisang, aku mengiyakan. Kami kembali melanjutkan menonton.

Berbagai suara-suara aneh di malam hari membuatku jadi tidak takut lagi. Malah yang ada perasaan kesal. Kalau mau masuk ya masuk saja, tidak usah ketuk-ketuk tidak jelas seperti itu sampai harus ada suara hentakan kaki. Menggangguku saja saat menonton, hmph!

Namun, bukannya mereda, setelah diganggunya indera pendengaranku, kini bau anyir darah mengganggu indera penciumanku.

-bersambung

 

Editor: Destalia