Ilustrasi. (Journal367/Reza)

Oleh: Salsa

Bau anyir darah beberapa kali tercium dari kamarku. Aku lebih sering mengabaikannya karena bau itu hanya lewat selintas.

Namun malam itu yang paling parah. Bau anyir darah kotor menyergap seluruh penjuru kamarku hingga aku merasa ‘pengap’. Tidak kuat dengan bau anyir darah, aku mengungsi di kamar Fumi.

“Kenapa?”

Sambil melempar guling, aku menghela napas lelah, “Kamar Mbak bau darah. Nggak kuat, bikin mabok,”

Ia keluar dari kamar dan memasuki kamarku. Tidak sampai satu detik, ia keluar seolah tak mencium bau apa-apa. “Emang, bikin mabok. Tapi udah nggak kok,”

“Masa’?”

Fumi—adikku—membuka gorden kamarku, memastikan padaku jika bau darah itu hilang. Benar saja. Bau itu menghilang tak berbekas.

“Ada mbak-mbak pendek segini,” Fumi membuat perumpamaan tinggi sosok yang tadi ada di kamarku. “Rambutnya panjang dan baru tadi banget keluar kamar Mbak,”

Kemampuannya melihat sosok tak kasat mata memang tak diragukan lagi. Ngomong-ngomong, hanya aku yang tak meragukan kemampuannya.

“Sekarang aman kan?”

Fumi mengangguk. “Iya, aman. Dia cuma numpang lewat aja. Kamar Mbak kotor,”

Kotor? Hei, aku sering membereskannya!

“Kamar Adek lebih jorok daripada kamar Mbak,” kilahku malu mengakui. Namun kamar dia jarang—bahkan hampir tidak pernah dibersihkan tetapi tidak ada yang ‘datang’. Ini tidak adil!

Dia cukup lelah untuk berdebat denganku, ia memutuskan untuk diam saja dan mengambil beberapa cemilan di lantai bawah.

Malam yang dingin kami habiskan untuk bercerita dari mulai mengapa Mary Stuart dihukum mati sampai apakah santet akan sampai jika orang yang disantet adalah bule. Kami bahkan sama sekali tak terganggu dengan suara gaduh malam hari yang ditimbulkan oleh ‘mereka’. Selama kami tidak mengganggu, ‘mereka’ juga tidak mengganggu kami. Pengecualian jika memang mereka berniat mencari masalah dengan kami.

Namun tak lama, Fumi terkejut melihat sosok di belakangku, tepatnya di jendela kamar. Keheningan dan sedikit rasa takut meliputi kami beberapa saat. Fumi mengangguk entah pada siapa, diam sejenak, dan menghela napas sebentar.

“Ada yang nyuruh kita tidur,” Fumi menjawab rasa penasaranku. “Dia bilang ‘ssshh.. cepat tidur’,”

“Rupanya kayak kayu. Mulutnya dijahit setengah,”

Aku membayangkan sosok itu sebagai titan di yang berada di dalam tembok di anime Attack on Titan. How eerie.

“Apa dia baik?”

Fumi mengangguk. “Ya, dia baik kok. Dia sering menampakkan diri dan sering menjaga kita pas malam-malam,”

Memiliki ‘pengawal’ hantu? Terdengar keren sekaligus menakutkan. Baiklah, jika begitu lebih baik menurutinya. Jangan sampai dia menjadi jahat karena manusia yang kepala batu.

Namun orang tua kami tak memercayai jika rumah ini ada ‘penghuni’ lain. Mereka beranggapan bahwa rumah ini ‘aman’, tidak ada yang begitu-begituan.

Semakin tak memercayainya, semakin intens pula mereka memperkuat eksistensinya. Meyakinkan bahwa mereka ada, mereka nyata, dan hidup berdampingan di rumah kami.

TAMAT.