Menakar dinamika konflik: destruktif ataukah konstruktik. Ilustrasi. (Layouter/Reza)

Oleh: Lina Malina

Permasalahan di seluruh negara begitu dinamis tak terkecuali Indonesia. Indonesia yang dikenal negara multikultural sekaligus negara berkembang tentunya sangat akrab dengan konflik. Negara berkembang barang pasti mengalami berbagai macam ketidakstabilan mulai dari sosial, ekonomi, keamanan, politik, hukum dan sebagainya. Permasalahan tersebut memunculkan kondisi konflik yang fluktuatif dan dinamis yang mungkin saja tidak bisa terprediksi. Tindakan preventifpun seakan hanya berdampak kecil karena tidak dibarengi dengan kesadaran dan pemahaman yang utuh dari berbagai pihak.

Masalah yang muncul seakan terus tiada henti, bervariasi dan berkembang seiring berjalannya waktu. Untuk mengingatkan saja, selama triwulan pertama tahun 2020 Indonesia seakan digoyang konflik terus menerus. Seperti ketegangan Indonesia-China, Omnibus Law si-UU sapu jagat yang hingga kini terus dibahas tidak peduli keadaan rakyat, belum lagi wabah virus corona yang menghantui dan penanganannya masih sempoyongan, kebijakan Menteri Kumham Yasonna yang melepas Napi katanya agar tak terjadi penularan covid, belum lagi kebijakan opung Luhut yang fantastis dan tentunya masih banyak lagi. Permasalahan tersebut barang pasti menimbulkan konflik baik secara horisontal maupun vertikal.

Di Mana Kedudukan Konflik yang Sebenarnya?

Kita telah sepakat bahwa kita bertempat tinggal di Indonesia dimana kehidupan bernegara dipayungi falsafah yang begitu sejuk yakni Pancasila dan kita tahu Pancasila juga yang menjadi jalan tengah ke-pluralitasan bangsa Indonesia.

Mau dipungkiri atau tidak pluralitasnya bangsa Indonesia juga diperoleh dari tiap-tiap suku yang masih mempertahankan egoisitas suku (read: etnosentrisme) dengan tidak memilih asimilasi melainkan akulturasi hingga tetap terciptalah kebhinekaan atau pluralitas yang ada hingga kini. Dengan kebhinekaan atau pluralnya bangsa Indonesia tidak mengherankan konflik terus silih berganti menghiasi kehidupan nyata maupun linimasa.

Telah menjadi realitas bahwa konflik akan selalu hadir dalam kehidupan kita dan mungkin saja menjadi alat pemecah belah, ironisnya lagi konflik tersebut digunakan sebagai alat pemecah belah bangsa karena perbedaan kepentingan.

Permainan psikologis yang berkenaan dengan perasaan menjadi salah satu senjata sempurna untuk memainkan keadaan dan membuat konflik semakin kuat berkobar. Pada hakikatnya kita telah menyepakati bahwa hanya ada dua nilai yang kita akui dalam kehidupan yakni: baik dan buruk. Namun, kita tidak pernah sepakat akan definisi baik dan buruk hingga menyebabkan konflik tak terelakkan dalam kehidupan kita. Konflik kepentingan akan selalu menjadi aktor utama dalam terjadinya konflik ditatanan horizontal maupun vertikal. Konflik kepentingan ini tak terlepas dari perbedaan nilai yang mereka anut dan akhirnya menyebabkan pertetangan yang rumit antar elemen sosial.

Konflik merupakan suatu kondisi yang tidak menyenangkan dan sering ditemui sehari-hari. Kehadiran konflik juga tidak bisa ditawar lagi alias harga mati. Konflik bisa bersifat destruktif sekaligus konstruktif dalam satu waktu sekaligus. Konflik bisa menimbulkan perpecahan sekaligus persatuan. Lalu sampai mana konflik menghiasi tatanan kehidupan kita?

Bagaimana Cara Memandang Konflik?

Menurut definisi yang disampaikan oleh Soerjono Soekanto “konflik terjadi dalam rangka mencapai tujuannya, setiap individu atau kelompok akan menggunakan segala cara termasuk ancaman atau kekerasan sebagai bentuk pertentangan terhadap lawannya”. Dengan demikian pertentangan maupun percekcokan akan selalu menghiasi kehidupan kita.

Sebagai manusia homo homini lupus yakni manusia adalah serigala bagi manusia lainnya yang akan selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang dituju sekalipun melewati kekerasan dalam mencapainya.

Konflik akan terus terjadi dalam kehidupan, karena selain adanya  standard society yang telah terbentuk dan mau tidak mau harus kita patuhi untuk sebagai alat control masyarakat namun individu sendiri juga memiliki standar atau nilai dan norma yang mungkin saja bisa bertentangan dengan nilai masyarakat secara kolektif. Karena individu sebagai manusia biasa juga memiliki hasrat untul menata kehidupan yang baik dan nyaman untuk dijalani.

Konflik memang tidak serta merta membawa dampak negatif, namun sudah terpatri jelas di pemahaman kita bahwasanya konflik bersifat destruktif atau merusak sebagai contoh seperti perang saudara, konflik kepentingan yang berlarut dan sebagainya yang menyebabkan pergeseran nilai dalam masyarakat.

Namun, sebenarnya konflik juga memiliki dampak yang positif tergantung bagaimana cara kita memandang sebuah konflik yang mendera. Tapi yang perlu dipahami adalah konflik yang bersifat positif ini hanya bisa dirasakan in-group atau kelompoknya sendiri karena ketika konflik terjadi upaya untuk saling bekerjasama antar anggota untuk melawan kelompok lain lebih kuat sehingga anggota kelompok akan saling bekerjasama dan berupaya untuk mengalahkan pihak lawan. Selain itu konflik yang terjadi akan memunculkan norma baru yang lebih relevan dan sesuai dengan dinamika yang terjadi. Sehingga norma yang ada akan bersifat dinamis sesuai dengan segala yang terjadi dalam kehidupan masyarakat atau kelompok tertentu.

Seyogyanya, kita memaknai konflik dengan baik, kendati konflik tersebut bersifat destruktif maupun konstruktif bagi tatanan kehidupan. Mari menggunakan akal dan hati dengan bijak agar konflik yang mendera tidak menjadi bumerang dan tentunya tidak menimbulkan masalah yang lebih luas. Kita hidup di negara multikultural tentunya harus memegang prinsip bahwa keberagaman tidak perlu diseragamkan begitulah kata seseorang dalam kicaunya.

Editor: Destalia