Mensos Ajak Ciptakan Kampus Hijau. Ilustrasi. (Layouter/Reza).

Keberadaan kampus ke depan tidak hanya melulu berwawasan keilmuan semata, tetapi sudah harus mengarah pada kampus yang berwawasan hijau. Yaitu kampus yang mengedepankan cara-cara mengatasi masalah sosial yang bercirikan pemberdayaan dan menciptakan lingkungan yang ramah, mudah, dan berekspektasi pada membangun daya tahan dan daya juang sasaran yang diberdayakan. Demikian dikatakan mensos saat melakukan diskusi santai dengan jajaran Akademika Poltekesos Bandung bertajuk Pekerjaan Sosial Berwawasan Ekologis (Green Social Work) pada hari Rabu, 5 Agustus 2020.

Ini sebuah ide yang menantang untuk sebuah upaya membangun kampus yang “environmental friendly,”  yaitu kampus yang bisa merecovery persoalan persoalan (sosial) menjadi sesuatu yang bernilai kembali.

Saat masalah sosial mengemuka di ranah kehidupan masyarakat, selalu berfokus pada kementerian sosial. Kementerian Sosial dijadikan sebagai tempat pengharapan publik yang mengalami masalah sosial untuk diselesaikan. Ini sebuah peluang dan juga tantangan bagi para pekerja sosial, untuk ke depan menciptakan pola dan cara menyelesaikan masalah yang berujung pada make somebody happy and make somebody strong. Dan ini adalah ranah tugas dari keilmuan pekerjaan sosial.

Bagaimana merecycle suatu persoalan sosial menjadi sebuah kekuatan sosial yang menguatkan citra diri, harkat dan martabat.

Pasar dunia sudah melihat pada hal ini, sebagai sebuah keniscayaan. Bagaimana kita menciptakan pekerja sosial profesional yang berwawasan lingkungan? Bagaimana melahirkan lulusan sarjana pekerjaan sosial yang berwawasan lingkungan? Demikian mensos berpengharapan.

Kita harus menciptakan penyelesaian masalah yang ramah secara psiko sosial dan ramah secara ekologis. Kesehatan sosial dan kesehatan lingkungan akan menjadi obat mujarab dalam membangun daya tahan dan daya juang warga yang mengalami masalah sosial. Warga akan tahu, mau, dan bisa cara mengatasi masalah dan menyelesaikan masalah.

Kampus ke depan adalah kampus yang memiliki banyak ruang yang bernuansa eksperimen, less light, more natural light, more fresh space, zero waste. Kampus harus diciptakan mendukung pada aktualisasi dan eksistensi penyelenggaraan kesejahteraan sosial sebagai mana diamanatkan dalam undang undang kesejahteraan sosial (integrated campus). Sehingga ke depan kampus Poltekesos juga bisa meningkatkan value Kementerian Sosial sebagai pemilik Poltekesos, juga value lulusannya. Poltekesos menjadi melting pot (cawan peleburan) yang akan melahirkan resep resep implementatif pemecahan masalah sosial yang menjadi tugas pokok Kementerian Sosial.

Kampus harus berisi instrumen yang mampu mendidik para mahsiswanya mampu dan trampil dalam mengatasi dan menyelesaikan 26 permasalahan sosial dan menguatkan 7 potensi sosial. Green Social Work adalah trend ke depan sebagai keilmuan yang ramah pola, ramah cara, ramah teknik. Mendidik dan melatih mahasiswa yang berwawasan kebangsaan serta berwawasan pada lingkungan.

Diskusi yang diikuti seluruh Civitas Akademika Poltekesos dan undangan lainnya berjalan sangat menarik, karena ada tantangan untuk menciptakan cara cara baru dalam mengatasi problem bangsa, khususnya dalam hal kesejahteraan sosial. Mensos berpesan agar Poltekesos untuk segera membuat platform atau road map baru dalam penyelengaraan pendidikannya yang berwawasan kebangsaan, lingkungan yang ramah. Ada diferensiasi baik dalam hal science, technology, maupun spiritualnya dengan kampus lainnya yang sejenis.

Penulis: Drs. Benny Setia Nugraha, M.Si