Poltekesos, Journal367 – Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini berkesempatan menjadi pembicara di kuliah umum yang bertajuk, “Kebijakan Kementerian Sosial RI dalam Mempersiapkan Calon Pekerja sosial di Masa Mendatang” yang dilaksanakan pada Kamis (18/03) di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung secara daring dan luring.

Kuliah umum diharapkan dapat memberi titik terang kepada mahasiswa terkait sepak terjang profesi pekerja sosial di masa mendatang. Namun, terdapat beberapa poin yang menjadi fokus utama dalam isi pidato Mensos, yang menuai polemik di kalangan sivitas akademika Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung, khususnya pada poin “Tidak mesti masalah sosial itu diselesaikan dengan ilmu-ilmu sosial, bisa didekati dengan ilmu-ilmu lain.”

Pernyataan Mensos tersebut ditanggapi oleh Presiden Mahasiswa BEM Poltekesos, Khanifah Wulaning Tiyas, “Mungkin karena dilisankan ya, jadi kita juga agak kurang bisa menangkap kebijakan yang dimaksud seperti apa. Namun aku yakin tentunya ada kebijakan untuk calon-calon peksos yang nantinya direalisasikan,” Ia juga menjelaskan dari sudut pandangnya mengenai pernyataan tersebut, bahwa maksud dari pernyataan Mensos adalah untuk bisa mengkolaborasikan ilmu kesejahteraan sosial dengan ilmu lainnya. “Bukan berarti kita menyampingkan ilmu-ilmu sosial tersebut. Akan tetapi, lebih ke kemampuan mengkolaborasikan ilmu sosial dengan disiplin ilmu lainnya, misalnya teknologi,” jelasnya.

Tanggapan lain disampaikan oleh Eka Yusrizal, mahasiswa Program Studi Pekerjaan Sosial, “Banyak teman-teman yang beranggapan bahwa isi pidato tidak seperti apa yang diharapkan untuk mendorong teman-teman pekerja sosial atau pun calon pekerja sosial sekalian dalam memperoleh akses pekerjaan. Terlebih Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung ini merupakan anak kandung dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang sepatutnya diberikan kesempatan dan peluang besar untuk memperoleh pekerjaan pasti sebagai seorang Pekerja sosial di Indonesia.”

“Mengutip dari perkataan Mensos yang mengatakan bahwa dunia terus berubah dan pemikiran terus dikembangkan, menjadi sebuah tamparan bagi saya selaku calon pekerja sosial untuk membuka mata dan pikiran bahwa permasalahan sosial di negara ini tidak dapat di selesaikan hanya dengan mengutamakan atau mengandalkan satu profesi dan satu ilmu saja. Benar apa yang dikatakan oleh Mensos bahwa manajemen kolaborasi adalah hal yang efektif dalam setiap pemecahan masalah. Bukankah sejak awal ditekankan bahwa Pekerja sosial itu bekerja bersama klien, bukan bekerja untuk klien?” tuturnya saat diwawancarai pada Sabtu (20/03).

Tentunya di samping polemik terkait pernyataan Mensos pada kuliah umum tiga hari lalu, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak mahasiswa yang menggantungkan harapan terhadap karir dari profesi pekerjaan sosial di masa mendatang. “Terlepas dari itu semua, dengan latar belakang beliau yang bukan dari bidang sosial mungkin beliau masih dalam tahapan memahami bidang ini. Terlebih harus mengembalikan nama baik Kemensos setelah seperti yang kita ketahui bersama bahwa periode sebelumnya tersandung kasus korupsi” ungkap salah satu mahasiswa Program Studi Rehabilitasi Sosial, Muhammad Akbar R. “Semoga kedepannya terdapat kebijakan yang konkret untuk masa depan Profesi Pekerja sosial di masa yang akan datang,” harapnya.

 

Reporter : Rahma, Ellya, Alfina

Editor : Annisya, Adel, Dian