Tanpa rasa sesal, para pelaku itu tetap berdiri tegap di tengah kekacauan yang ia perbuat. Ada yang kebebasannya setelah sekian lama mendekam di balik jeruji besi disambut bak pahlawan yang pulang membawa gelar kejuaraan. Tetapi sepertinya benar, memang juara, juara mengiris hati dan mengikis habis hati nurani. Ada juga yang masih mempertahankan harga diri hingga melapor balik atas dasar pencemaran nama baik. Benar-benar di luar naluri.

Ironisnya, kemana naluri itu pergi? Ketika melihat mantan narapidana pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur justru dielu-elukan di dunia pertelevisian? Hanya karena dianggap sebagai orang yang berpengaruh di dunia hiburan? Pembenaran terhadap pelaku pelecehan seksual itu dilihat sebagai kultur yang dibentuk oleh budaya patriarki dan pemberitaan media massa yang tidak terlalu berhati-hati juga dapat mengakibatkan terjadinya glorifikasi. Tidak ada yang salah memang dalam menyambut kebebasan seseorang tetapi tidak harus selalu dipertontonkan, bukan? Apalagi diberi keleluasaan untuk mewajarkan suatu tindakan yang ia lakukan di masa lampau.

Barangkali lupa atau tidak mengerti? Pelecehan seksual bukanlah tindakan yang dapat ditoleransi. Tindakan tersebut dipandang sebagai kejahatan kemanusiaan yang akibatnya sangat fatal pada keberfungsiaan sosial seseorang. Tidak hanya masalah harga diri, tetapi jauh memberi cekaman akan keselamatan jiwa seseorang. Adakah terpikir sampai kesana? Bagaimana para korban yang berada pada kubu termarginalkan merasa tidak dapat perlindungan? Bagaimana tindakan para pelaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu disuarakan?

Dan yang paling membuat tidak habis akal adalah para pelaku kadang berlagak tanpa ada rasa sesal, berjalan seolah yang ia lakukan tidak akan memberi dampak pada korban, dan sadisnya tidak jarang mendakwa bahwa tindakan itu tercipta karena korban itu sendiri. Hukuman seperti apa yang pantas untuk manusia seperti ini? Jika hukuman di negeri ini saja seperti tidak ada pengaruhnya. Iya, kita memang bukan Tuhan, tetapi kita manusia yang diberi akal dan pikiran. Sudahkah merasa bersalah atas apa yang dilakukan? Sudahkah menjaga diri agar tidak berperilaku menyimpang? Sudahkah memikirkan hati para korban yang separuh hidupnya diambang kegelapan dan keputusasaan? Sepertinya tidak atau belum terpikirkan sampai kesana.

Pada siapa lagi harus mencari perlindungan? Sejauh apa lagi harus mencari tempat persembunyian? Jika manusia-manusia tidak berakal sehat itu masih dengan leluasa berkeliaran. Terlebih pada eksistensi kaum perempuan. Lagi-lagi diri sendiri yang harus diberi peringatan “Pakai baju yang benar, jangan suka mancing-mancing, diam di rumah saja lebih baik daripada keluyuran!” Tetapi apa pernah para pelaku diberi tuntutan yang serupa “Dijaga hasratnya, pakaian itu hak seseorang, jangan mudah tergoda!” Rasa-rasanya tidak, bukan?

Memang harus diakui, tidak ada sesuatu di alam ini yang terjadi begitu saja tanpa alasan. Termasuk tingkah laku dan tindakan-tindakan tidak menyenangkan. Tetapi bukan berarti hal itu dapat membenarkan sebuah perlakuan tidak manusiawi yang menggoreskan luka yang cukup dalam. Ingat! Korban tidak pernah punya keinginan untuk menjadi korban, tetapi pelaku punya pilihan untuk melakukan atau menghindari tindakan yang tidak seharusnya ia lakukan.

Rahmawati Rukman Putri

Editor: Dian Choirunisa