Uang logam recehan itu jatuh berserakan di lantai tanah kamarnya saat dia berusaha menggantung celananya di balik pintu. Dia memungutnya satu per satu, mengembalikannya ke dalam saku celana, dan kemudian duduk di atas kursi reyot. Tatapannya terpaku pada dinding papan rumahnya.

Suara istrinya berteriak memanggil namanya. Namun dia tidak menghiraukannya, bukan karena dia tidak peduli, tapi karena dia terlalu lelah untuk menyahut. Suaranya habis karena sudah berteriak-teriak sejak siang tadi.

“Sudah pulang, Mas?” Tiba-tiba istrinya muncul dari ambang pintu sambil membawa kopi hitam hangat di dalam gelas plastik.

Dia mengangguk lemah.

Istrinya meletakkan minuman itu di atas tumpukan koran bekas dan tidak lama kemudian sudah tertidur pulas di kasur milik mereka satu-satunya.

Kini ia menatap istrinya. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, apakah dia terlalu memaksakan keinginannya. Istrinya tidak pernah tidak sependapat dengannya, bahkan ketika dia ingin mengambil pekerjaan tambahan.

“Yang penting jaga kesehatan, Mas.” kata istrinya saat dia akan memulai pekerjaan tambahannya siang tadi.

Sebenarnya dengan begitu istrinya tidak perlu bekerja mencuci pakaian orang lain lagi. Kebutuhan hidup mereka sudah cukup.

Tapi dia tidak puas dengan sekedar cukup. Dia datang ke kota besar bukan hanya untuk cukup mengisi perut saja. Dia ingin maju. Dia ingin menjadi orang besar dan untuk memenuhi keinginannya itu, istrinya terpaksa harus tetap bekerja.

“Yanto, kau yakin bisa menjadi orang kaya?” tanya Ujang, rekan sesama ojek, dengan wajah yang melecehkan.

Dia tidak menjawabnya. Entah sudah berapa banyak orang yang menyangsikan impiannya itu. Baginya, Ujang sama seperti orang-orang kecil lainnya yang pasrah bahwa tidak ada lagi yang bisa mengubah nasib mereka.

Hari ini dia enggan pulang cepat. Tadi pagi sebelum berangkat mengojek, Rahmat, juragan tanah yang dulu sama seperti dirinya, datang ke rumah kontrakannya yang hanya sepetak.

“Kau masih ingin menjadi orang kaya?” tanya Rahmat tanpa berbasa-basi.

“Itu kau sudah tahu.”

Rahmat mengangguk dan tersenyum. “Aku bersama beberapa orang teman punya suatu rencana.”

“Katakan secepatnya, aku harus bekerja.”

“Ya, tentu. Tapi apa kau punya modal?”

“Aku sedang mengumpulkannya.”

“Apakah itu cukup?”

“Pertanyaanmu terlalu berbelat-belit, langsung katakan saja apa yang kau inginkan.”

“Aku bisa membantumu.”

Sebenarnya dia tidak ingin memenuhi ajakan Rahmat. Namun tawarannya itu sangat menggiurkan. Dia bisa mendapatkan modal dengan cepat dan impiannya untuk menjadi orang kaya tinggal menunggu waktu saja.

Pekerjaan itu yang sebenarnya membuat dia enggan. Resikonya terlalu besar. Tadi pagi sewaktu Rahmat mengatakannya, dia benar-benar terkejut.

“Untuk apa kau melakukan ini, bukankah segalanya sudah cukup bagimu?”

“Tidak, Yanto. Aku sama seperti dirimu. Aku merasa semua itu tidak cukup.”

“Tapi kau sudah cukup kaya, Rahmat.”

“Ada tujuan lain dalam hidupku selain menjadi kaya.”

Percakapan itu masih terekam jelas di kepalanya saat dia memasuki pekarangan rumah yang luas milik Rahmat. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, bicara seperlunya, mendengarkan rencana mereka, lalu pulang bertemu istrinya.

“Kami akan beri kau waktu sampai besok untuk memutuskannya,” kata Rahmat saat dia hendak beranjak pulang. “Tapi ingat, jika kau tidak ikut, rencana ini tidak akan berjalan.”

Dia mengangguk lemah, lalu berjalan keluar. Selama perjalanan pulang dia terus saja memikirkannya. Bahkan sesampainya di rumah dia membeberkan rencananya itu pada istrinya. Dia tidak bisa menyimpan semuanya itu seorang diri karena bisa membuatnya jadi gila. Dan yang lebih gilanya lagi, istrinya hanya mengangguk saja tanpa memprotes sedikitpun perkataannya.

Pagi ini dia telah menetapkan keputusannya. Dia tidak akan ikut dalam rencana itu. Sebelum berangkat dia meminta istrinya untuk mengatakan itu pada Rahmat, jika datang nanti.

Masih banyak cara untuk menjadi orang kaya. Tidak harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan moral. Walau perjalanannya akan menjadi amat sangat panjang.

Sepulang mengojek dia mendapati seorang gadis kecil berada di rumah kontrakannya yang sempit. Dia memandang istrinya dengan wajah bertanya-tanya.

“Dia anak tetangga,” kata istrinya. “Mereka sedang pulang kampung. Tidak tahu kapan kembalinya.”

“Mengapa mereka meninggalkannya seorang diri?”

“Tidak tahu. Biar saja, Pa, aku tidak merasa kerepotan.”

Mungkin istrinya memang tidak merasa kerepotan, tapi dia merasa rumah mereka terlalu kecil untuk bertambah satu orang penghuni lagi. Ingin rasanya dia memprotes istrinya, tapi hal itu tidak dilakukannya. Dia melihat istrinya begitu gembira dengan adanya gadis kecil itu.

Semenjak penolakannya terhadap rencana Rahmat, kehidupannya berjalan lagi seperti biasa. Pagi hingga siang hari dia mengojek, setelah itu hingga malam hari bekerja sebagai kernet. Keinginannya untuk menjadi orang kaya tetap membara, seperti tungku api yang selalu diberi kayu bakar. Tak ada seorangpun yang bisa memadamkannya.

Dia merogoh saku celananya dan menggerak-gerakkan tangannya. Bunyi gemerincing uang logam recehan terdengar menyenangkan di telinganya. Perlahan-lahan keadaannya semakin membaik. Modalnya sudah banyak, meski belum cukup untuk menjadi orang kaya.

Pikirannya menerawang ke rumah saat berjalan pulang. Sudah berhari-hari gadis kecil itu berada di rumahnya. Nanti dia akan meminta istrinya supaya tidak usah bekerja lagi. Biar dia saja yang bekerja. Sedangkan istrinya di rumahnya saja mengurus gadis kecil itu.

Seperti biasa istrinya menyambut dengan segelas kopi hitam. Dia langsung menghirupnya dan kemudian duduk di kursi reyot favoritnya. Selembar koran melayang jatuh, dia memungutnya, lalu membacanya. Koran terbitan lima hari yang lalu. Sepasang matanya dengan lincah melihat berita-berita yang sudah basi. Pandangannya terpaku pada sebuah berita. Dia terkejut. Wajahnya mendadak pucat, keringat mengucur deras di keningnya, ingin rasanya saat itu juga dia pingsan. Tapi tidak bisa.

Dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Lalu dibacanya lagi berita di koran itu sedekat mungkin agar lebih jelas. Tidak salah lagi, itu adalah foto gadis kecil yang sudah beberapa hari ini tinggal di rumahnya. Dia membaca tulisan di samping foto itu: GADIS KECIL MENGHILANG SEPULANG SEKOLAH.

Sekujur tubuhnya mendadak lemas, pandangannya mulai berkunang-kunang. Biarlah kali ini dia pingsan. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah ikut ambil bagian dalam rencana Rahmat, juragan tanah itu.

Adeline Floriana M