Oleh: Anonim

Pengalaman mistis yang dialami Izi, adikku ini terjadi sekitar empat atau lima tahun lalu saat bulan puasa. Sehabis buka puasa dan salat magrib di rumah, Izi terlihat sangat mencurigakan karena tak biasanya ia semangat sekali untuk berangkat tarawih. Segera ku ambil air wudhu dan bersama orang tuaku berangkat ke musala, setelah mendengar adzan isya berkumandang.

Sesampainya di sana, tidak terlihat barisan anak yang seumuran dengan Izi. Wah, benar saja, pasti mereka bermain di suatu tempat. Pada akhir pujian selawat menuju ikamah, barulah terdengar suara mereka berlari-lari dan berteriak menuju musala.

Setelah sampai di rumah, Izi menceritakan kejadian tadi. Sebelum salat tarawih, dia tengah bermain petak umpet bersama teman-temannya di sekitaran jalan kampung yang letaknya lumayan jauh dari musala. Izi dan temannya yang bernama Ipang bersembunyi di tempat yang sama. Dengan posisi jongkok dan memperhatikan gerak-gerik si penjaga, Izi menoleh ke kanan dan ke kiri.

Izi menyeletuk, “Pang, di sebelah kanan dekat antena belakang rumah Mak Yah, di balik pohon pisang itu apa ya? Ada putih-putih lusuh.”

Ipang yang sudah tahu terlebih dahulu berusaha mengalihkan perhatian, “Sudah Zi, tidak usah menengok ke sana lagi. Jangan berisik, nanti kita ketahuan.”

Izi yang ngeyel ini terus memerhatikan putih-putih lusuh itu. Walaupun dalam keadaan gelap, putih yang dilihat Izi sangat mencolok. Lama kelamaan putih-putih lusuh itu membentuk wajah dan badan yang menyerupai manusia. Sepertinya itu adalah poc…

Adikku langsung pucat dan tidak bisa berkata apapun. Tak lama, si penjaga berhasil menemukan teman lain. Permainan diakhiri karena sudah mulai terdengar pelantun pujian selawat yang tampak ragu melanjutkan selawatnya sebagai pertanda sebentar lagi imam datang dan ikamah.

Keesokan harinya, Izi bertanya kepada Mak Yah. Kebetulan Mak Yah adalah mbak yang bekerja di rumah kami.

“Mak, tadi malam aku, Ipang, sama teman-teman main petak umpet. Terus lihat di dekat antena di balik pohon pisang ada putih-putih Mak, pas dilihat lagi ternyata pocong.” ucap adikku.

“Masa sih Mas Zi, di rumah Mak Yah itu tidak ada apa-apanya, mana ada hantu puasa-puasa begini Mas. Mas Izi salah lihat mungkin.”, ucap Mak Yah tidak percaya.

“Benar Mak, Izi tidak salah lihat. Ipang juga lihat, tetapi dia diam saja tidak mau bilang.” timpal Izi.

“Ya sudah, nanti Mak Yah lihat kalau sudah sampai rumah. Kalau menurut Mak Yah itu kain/karung yang tidak terpakai Mas, kabur kena angin terus nyangkut di balik pohon pisang.” jawab Mak Yah.

Keesokan harinya, Mak Yah datang lagi untuk bekerja.

“Mas Izi, kemarin waktu pulang dari sini Mak Yah langsung ke belakang rumah dekat antena. Di pohon pisang nggak ada apa-apanya Mas. Bener kan kata Mak Yah, Mas Izi salah lihat.”

“Ya sudah deh Mak Yah, padahal Izi lihat kalau itu asli bukan bohongan.” jawab adikku dengan nada tak mau kalah.

“Mak Yah tidak bohong Mas, kalau tidak percaya nanti ikut Mak pulang saja.” kata Mak Yah.

“Iya Mak Yah, Izi percaya. Nggak mau main ke rumah Mak Yah, ngeri.” tolak adikku.

Semenjak kejadian itu, Izi tidak mau lagi ikut bermain petak umpet. Dia tetap berangkat awal seperti biasanya, namun hanya bermain petasan dan kembang api di depan musala sembari menunggu ikamah.

Segini saja cerita dari saya ya, maaf kalau kurang serem. Sebenarnya masih ada satu cerita lagi tapi nggak serem juga sih, buat kapan-kapan aja kali ya.

Selamat membaca!

Editor : Adeline Floriana M