Journal367, Poltekesos―Franco Felliciano dan Fransisco Martin, pasangan calon Presiden Mahasiswa dan calon Wakil Presiden Mahasiswa yang gagal maju dalam PEMIRA 2021 terus mengusahakan adanya pengkajian ulang terhadap produk hukum yang saat ini dinilai tidak substantif dan menjadi penyebab keduanya gagal melaju dalam PEMIRA dengan mengungkapkan sejumlah fakta yang terjadi saat pelaksanaan sidang verifikasi data berlangsung pada Selasa (16/11).

Paslon gagal tersebut membenarkan bahwa terdapat kesalahan penulisan tanggal dalam surat cuti OKM tersebut, “Terkait tanggal itu memang benar, kami mencantumkan tanggal 28 November sedangkan masa PEMIRA selesai pada tanggal 29 November. Tapi kita kembalikan lagi ke peraturan yang bahkan tidak ada ketentuan tanggal dan diksi hukum bahwa surat cuti wajib dilampirkan, serta menjadi syarat pencalonan,”  ujar Franco.

Fransisco menjelaskan bahwa kesalahan dari penulisan tanggal tersebut karena kurangnya penjelasan dalam peraturan, “Ya kita mengira hanya sampai masa kampanye saja, bukan sampai keseluruhan selesai. Kurang diinformasikan,” tambahnya dalam wawancara, Jumat (19/11).

Rancunya peraturan LPRM menyebabkan pendiskualifikasian pasangan calon tersebut dalam PEMIRA 2021 patut dipertanyakan kembali. Menurut paslon dua, mereka bahkan sudah dinyatakan lolos bersyarat, “Bahkan dari LPRM sudah mengetuk palu bahwa kami lolos bersyarat, tiga kali disahkan,” tegas Franco.

Menurutnya, dalam sidang verifikasi data bakal calon Presiden Mahasiswa dan calon Wakil Presiden Mahasiswa yang dilaksanakan pada Selasa (16/11) tidak menunjukkan representatif demokrasi sebenarnya. Participant Zoom yang dapat mengikuti sidang hanya dibatasi 100 orang sehingga perlu dipertanyakan dimana suara mahasiswa seutuhnya, “Hanya dibuka untuk 100 orang saja setelah itu tidak ada yang bisa masuk lagi, padahal seharusnya bisa dibuka untuk lebih dari itu karena seluruh mahasiswa harus mengetahui keadaan sidang pada saat itu,” ungkap Fransisco.

Lebih lanjut, paslon tersebut menuturkan alasan mereka tidak banyak bersuara pada saat sidang berlangsung yang mana sangat disayangkan oleh beberapa pihak, “Kami menyuarakan lewat mahasiswa, kami tidak mau terlalu membela, kami tahu bagaimana mereka membawa pasukannya untuk terus menjegal. Jadi, biar mahasiswa yang menilai,” tutur Franco.

Paslon dua pun menjelaskan bahwa mereka sudah menginterupsi mengenai permasalahan tersebut yang disampaikan kepada Bawasluma melalui direct message Instagram, akan tetapi mendapat respon yang tidak profesional, “Kami sudah interupsi di direct message Bawasluma, tapi responnya tidak profesional dan tidak menunjukkan kredibilitasnya. Mereka mengatakan ‘nasi sudah jadi bubur, bubur ditambah ayam dan kacang jadi bubur ayam.’ Itu sudah tidak menunjukkan profesionalitasnya. Jadi, biar mahasiswa yang menilai bagaimana,” tambah Franco ketika ditanya mengenai langkah mereka menyuarakan hal tersebut.

Di sisi lain, penutupan sidang verifikasi secara tiba-tiba juga turut memperkuat kecurigaan keduanya terhadap kecurangan yang terjadi di PEMIRA, “Di momen akhir ada yang berusaha menyampaikan point of order namun langsung di end meeting,” tutur Franco.

Lebih lanjut, mereka menuturkan kecurigaan terhadap pelaksanaan PEMIRA ini terdapat keterlibatan politik eksternal di dalamnya. Menurutnya, pelaksanaan PEMIRA ini hanya mengutamakan politik praktis tanpa melihat urgensi demokrasi yang terjadi di kampus, ”Hanya karena kesalahan setitik tinta (re: kekeliruan tanggal cuti) mereka berani menjegal paslon dua. Etika konstitusinya tidak ada,” sesal Franco dalam wawancaranya.

Franco dan Fransisco pun buka suara mengenai PEMIRA yang tetap dilanjutkan ke tahap kampanye, sedangkan isu mengenai produk hukum peraturan LPRM dan Bawasluma masih dipertanyakan, “Karena kami sudah bukan bakal paslon, kami ingin mengadakan mimbar bebas dan kita buka bagaimana cacatnya produk hukum LPRM dan Bawasluma yang tidak sesuai dengan hierarki OKM, supaya mahasiswa bisa melek dan menilai berlandaskan hukum yang berlaku,” ujar Franco ketika ditanya mengenai langkah mereka selanjutnya.

Diketahui jika dalam pemungutan suara banyak yang memilih kotak kosong yang berarti ada kemungkinan paslon yang gagal ini dapat melaju kembali, Franco dan Fransisco sepakat untuk memperbaharui produk hukumnya lebih dulu sebelum melangkah kembali menjadi paslon, “Jika produk hukum sudah diperbaharui, maka kami sepakat untuk naik kembali, kami tidak akan maju sebelum diperbaharui karena seperti jatuh pada lubang yang sama. Jangan hanya karena secarik kertas, mengorbankan demokrasi,” tutup Fransisco.

 

Reporter: Ellya & Rahma

Editor : Annisya