Oleh: Rachman Fasya Irhamna

 

Muak adalah perasaan yang seringkali muncul ketika ada yang meromantisasi suatu wilayah, mengaitkannya dengan momen, stereotip dan emosi. Misal, momennya adalah Bandung ketika sesudah hujan, stereotipnya sejuk dan emosinya romantis. Aku muak karena Bandung bagiku tidak sesejuk itu, dan tidak seromantis itu apalagi sesudah hujan, bawaannya ingin berlama-lama di tempat tidur dan meneruskan tadarus serial di OTT yang aku beli profilenya di Twitter. “Orang-orang terlalu meromantisasi kota ini jadinya gak asik, karena kota ini ga sebagus itu” ucapku dalam pikiran.

Tahun ini merupakan yang ke-lima sejak aku menasbihkan diri menjadi warganya karena presentasenya lebih banyak tinggal di Bandung daripada di kampung halaman dan alamat yang tertera di pencatatan sipil, Sumedang. Lima tahun pula, merasakan kultur, kebiasaan orang-orangnya yang santai, guyub dan hangat. Selama itu pula, kota ini jadi tempat berekspresi, berelasi dan menyalurkan energi kepada hal yang dicintai. Selama itu pula, puluhan tempat makan, belasan kafe serta jalan-jalan yang seiring waktu hafal di luar kepala dilewati. Ujung utara Dago hingga selatan Bojongsoang, Ujung barat Pasteur sampai timur Cileunyi ibarat “jalan ka cai” kalau merunut pepatah orang Sunda yang berarti sering bolak-balik.

Bertemu banyak orang menjadi teman dan ku anggap sebagai saudara sendiri, bertemu banyak perempuan yang sebagian kecil berhasil dimiliki dengan ragamnya, tidak hanya sifat yang kuperhatikan tapi betapa jomplangnya demografis dan latar belakang keluarga mereka membentuk menjadi pribadi yang beragam pula. Pacaran dengan orang Padalarang yang jauh dari kediaman, sampai bersama orang Cileunyi yang dekat dengan rumah memberikan kesan sendiri-sendiri. Betapa serunya kota ini ketika dua orang dari daerah satelit memadu kasih di tempat-tempat yang sejenak menjadi romantis. Sejenak pula banyak tempat makan yang belum sanggup dikunjungi kembali, jalan yang selalu dihindari, kegiatan yang belum dilakukan kembali karena masih terikat memori.

Maaf harus menjilat ludah sendiri karena kota ini begitu hangat dibalik dinginnya (sebagian di utara) suhu udara hari ini. Kota ini menjadi tempat bermain dan belajar, tempat membuat dosa dan mendekatkan diri ke Tuhan, tempat menimba ilmu dan mengejar mimpi. Tapi sekarang, kusimpan dulu itu semua demi penghidupan. Sampai jumpa lagi, Bandung, di pertemuan selanjutnya, I am your citizen always, your Bobotoh always and Bandung always be my home to come.

I will come to this site to write about you if I come home. Kaula mumara ka dayeuh nu langkung ageung, keur tanggung waler tur pribados nu langkung bagja ti kiwari. Neda Piduana, salam baktos ka sadaya!