DIRIMU

 Oleh : A.N

Dirimu….

Yang tak dapat didefinisikan melalui kata..

Yang mengajarkan arti sabar dalam penantian

Yang membuatku tak pernah lelah menanti walau dalam ketidakpastian.

Dirimu yang dengan murah hati menawarkan senyum kala terluka

Masih membekas di benak ini saat awal melihatmu yang tak sesuai ekspektasi….

Kala itu ku hanya mampu membisu menatap dengan tak percaya dirimu yang mampu membuatku sulit bernafas hingga langsung mengagumimu saat pertama kali menatapmu.

Mata teduh itu seakan menembus sanubariku..

Senyum manis itu mampu mengacaukan detak jantungku..

Hingga ku ingat saat itu aku hanya mampu tersenyum dengan kebingungan..

Lalu suaramu menyapa bagai alunan musik yang mengalir dengan merdunya..

Lagi-lagi aku tercengang tak kusangka menjulurkan tangan padamu..

Yang dirimu tolak dengan lembut sambil mengangkat kedua tangan di depanmu..

Bisa ku rasakan pipiku merona menahan malu bercampur takjub..

Seakan hal itu tabu bagiku..

Tapi percayalah aku tak bermaksud hanya saja tak ku sangka masih ada makhluk sepertimu…

Hingga aku tak sadar hatiku telah jatuh kepelukanmu..

Semua tentangmu seakan pusaran hitam yang menarikku menembus dimensi waktu..

Membuatku lupa dengan hal lainnya, seakan dirimu sukses mengalihkan duniaku..

Pertemuan singkat yang menjadi awal tiap senyuman dan sedih di pipimu..

Terekam jelas setiap senyummu, setiap nasehatmu, setiap gerakan yang mampu membuatku berpaling dalam sekejab, ya dirimu yang membuat hati ini kembali tertata…

Banyak diri ini mendengar bahwa tersimpan ruang untukku..

Namun, penolakan tegas dari salah satu pihak seakan menyadarkan perbedaan.

 

SEMU

Oleh: A.N

Egois jika mempertahankanmu dengan segala hal mengenai dirimu

Namun, hati seolah berteriak tak sanggup melepasmu..

Tapi membiarkan seseorang terluka untuk hal yang ku tahu salah juga bukan pilihan

Semua seakan salah hingga diam seakan menjadi jawab dalam tangis…

 

Rasa yang telah dalam seolah dipaksa lenyap..

Bagaikan goresan tinta pada lembaran kertas..

yang tak akan kembali bersih dan hanya meninggalkan noda …

yang hanya berupa goresan semu.

 

DIKUBUR MIMPI

Oleh : Suhailla Sekar Ayu

Diawali dengan helaan napas, saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Kemana semua mimpi itu kau kubur?.”

Tidak ada jawaban, hanya ada pantulan diri saya sendiri di kaca.

 

Akhir-akhir ini saya merasa menjadi orang paling gila.

Terlalu khawatir dengan masa depan.

Terlalu menggenggam apa yang seharusnya dilepas.

Menuruti ego untuk menjadi orang baik hati dan patut dicontoh.

Padahal cuihhh, saya jauh dari kata itu.

 

Tidak adil dengan diri saya sendiri.

Terus membantu orang lain padahal diri ini sedang kritis.

Hebat menasihati mereka padahal saya sendiri tenggelam di hitamnya tinta.

Bodoh, tidak luput dari kata itu.

Keterlaluan, dengan tega bunuh diri.

Mati muda dikubur mimpi sendiri.

 

KAMAR

Oleh : Suhailla Sekar Ayu

Merah muda kamarku menjadi abu.

Jendela coklat kini berdebu.

Hijau tanaman tak terawat seperti dahulu.

Kasur besar tak berfungsi karna berbulu.

 

Keseharianku kini ditempa waktu.

Berlari mengejar asa yang sia.

Bantal tak merindu kepala.

Guling memeluk dirinya sendiri.

 

Warna dalam ruang akan sirna.

Bersama kepergianku ia merana.

Dikuasai rindu tak dapat berkelana.

Menunggu temu kala purnama.